
BANDA ACEH — Isu pemanasan global yang dipicu oleh tingginya emisi gas rumah kaca terus menjadi perhatian dunia, tak terkecuali di sektor pertanian dan peternakan. Ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba diketahui sebagai salah satu penyumbang emisi gas metana (CH4) yang cukup besar. Gas ini terbentuk secara alami akibat proses fermentasi enterik di dalam lambung (rumen) ternak. Merespons tantangan lingkungan tersebut, sebuah terobosan baru datang dari dunia akademisi untuk menciptakan peternakan yang lebih ramah lingkungan.
Seorang mahasiswa, Muhammad Resthu, yang saat ini tengah menempuh studi di Program Studi Doktor Ilmu Pertanian, Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK), berhasil mengembangkan inovasi produk pakan aditif. Di bawah arahan dan bimbingan langsung dari Promotor Prof. Dr. Ir. Samadi, M.Sc. sekaligus sebagai Kepala Pusat Riset Inovasi dan Teknologi Pakan (PRITP). Resthu berfokus pada riset mendalam terkait formulasi pakan masa depan. Penelitian mutakhir ini dilakukan secara intensif di bawah naungan PRITP.
Luaran utama dari produk penelitian ini adalah Bahan Pakan Aditif Ternak Ruminansia yang diberi nama AMFA, kependekan dari Antimethanogenic Feed Additive. Keunikan sekaligus daya tarik utama dari inovasi AMFA terletak pada bahan baku utamanya yang sepenuhnya memanfaatkan limbah kelapa muda. Selama ini, limbah sabut dan cangkang kelapa muda yang melimpah dari pedagang minuman sering kali hanya berakhir di tempat pembuangan sampah dan menjadi masalah lingkungan tersendiri karena memakan banyak tempat dan sulit terurai dengan cepat.
Fungsi esensial dari pakan aditif AMFA ini adalah untuk mengurangi produksi gas metan yang dihasilkan oleh ternak ruminansia. Penelitian ini masih dalam tahap pengembangan skala lab dan masih diperlukan pengujian lebih lanjut secara in vivo pada ternak ruminansia. Senyawa aktif seperti tanin terkondensasi, flavonoid, dan fenol telah dikaji mampu mengruangi produksi gas metan secara in vitro. Mekanisme kerjanya dengan berperan sebagai anti-biofilm yang bisa melisis membrane plasma protozoa sebagai agen produksi metan di dalam rumen.
Langkah inovatif Muhammad Resthu bersama Prof. Samadi ini menjadi bukti nyata kontribusi PRITP dalam menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat. Inovasi AMFA tidak hanya menawarkan mitigasi perubahan iklim dari sektor peternakan, tetapi produk ini juga mengusung prinsip ekonomi sirkular dengan mengubah limbah tak bernilai menjadi produk yang bernilai jual. Ke depannya, produk ini diharapkan dapat segera dihilirisasi dan didistribusikan kepada para peternak lokal hingga nasional demi mewujudkan sistem peternakan Indonesia yang berkelanjutan.




